Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Anak-anak kelas 3 yang Sholeh dan sholehah, silakan tonton video di atas. Setelah nonton baru baca ceritanya ya. Semoga bisa mengambil hikmahnya.
KISAH NABI IBRAHIM DAN ISMAIL
Nabi
Ismail adalah putra nabi Ibrahim dengan istri mudahnya yakni Siti Hajar. Siti
Hajar adalah budak yang diberikan oleh Raja Mesir kepada Nabi Ibrahim a.s.
Atas persetujuan Siti Sarah akhirnya nabi Ibrahim mau menikahi Siti
Hajar.
Setelah
menikah dengan Nabi Ibrahim, Siti Hajar akhirnya mengandung. Namun, ia
menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang sudah lama menikah. Tapi belum
juga di karuniai seorang anak. Sekeras apapun Siti Hajar menyembunyikan
kandungannya, akhirnya terungkap juga rahasia tersebut. Dari rahim Siti
Hajar lahirlah seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ismail.
Setelah
kelahiran Ismail, Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan
Nabi Ibrahim membawa pergi Siti Hajar dan Ismail ke Mekah, maka Nabi
Ibrahim memenuhi perintah itu dan ia pun pergi membawa keduanya ke Mekah di
dekat tempat yang nantinya akan dibangunkan ka’bah. Pada saat itu masih
padang pasir kosong yang belum di diami oleh manusia.
Siti
hajar begitu cemas dan sedih ketika Nabi ibrahim akan meninggalkannya seorang
diri bersama anaknya yang masih kecil, di tempat yang begitu sunyi senyap,
tidak ada orang sama sekali, kecuali hanya pasir dan batu. Seraya merintih dan
menangis, ia memegang kuat-kuat baju Nabi ibrahim as sambil memohon belas
kasihannya, meminta agar ia tidak ditinggalkan seorang diri di tempat yang
begitu hampa, tdak ada seorang manusia sama sekali, tidak ada binatang, tidak
ada pohon dan air mengalir pun juga tidak terlihat di tempat itu. Semenara itu
ia masih bertanggung jawab untuk mengasuh anak kecil yang masih menyusu
kepadanya.
Lalu
atas perintah Allah Swt Nabi Ibrahim a.s. pun kembali ke negri Syam pada istri
pertamanya yaitu Siti Sarah.
Nabi
Ibrahim melanjutkan perjalanannya dan sampai pada sebuah bukit.
Nabi Ibrahim tidak dapat melihatnya lagi, Nabi Ibrahim menghadap ke arah
Ka’bah lalu berdoa untuk Istri dan putranya dengan mengangkat kedua belah
tangannya.
Siti
Hajar langsung menyusui Ismail dan Siti Hajar minum air persediaan yang di
bawanya. Hingga Suatu ketika Siti Hajar kehabisan air, beliau sangat
kehausan sehingga air susunya pun kering. dia memandang kepada Ismail sang bayi
yang sedang meronta-ronta kehausan. Dalam usahanya mencari air, Siti
Hajar berlari kesana kemari sampai ke bukit Shafa dan Marwah.
Ia
sangat berharap bisa mendapatkan sesuatu yang bisa menolongnya, namuan hanya
batu dan pasir yang ditemuinya di sana, lalu dari bukit safa itu ia melihat
bayangan air yang mengalir di atas bukit marwah, kemudian berlarilah ia ke
bukti marwah, namun setelah sampai di sana yang dikiranya air ternyata hanya
bayangan.
Kemudian
ia mendengar ada suara yang memanggilnya dari bukti Shafa, pergilah ia ke bukit
Shafa, namun setelah sampai di bukit Shafa ia tidak menjupai siapa-siapa.
Siti
Hajar terus mendengar suara yang mengarah pada tempat di mana bayinya Ismail di
baringkan dalam keadaan menangis sambil meronta-ronta dan menghentak-hentakan kakinya.
Tiba-tiba, di dekat Ismail berbaring, memancarlah mata air. Melihat mata air
tersebut, Siti Hajar langung berlari tergesa-gesa untuk menampung air tersebut.
Di sebutlah air yang berlimpah itu dengan sebutan ‘’ Zam-Zam’’ yang
artinya ‘’ Berkumpul’’.
Melihat
air yang berlimpah Siti Hajar sangat gembira. Beliau langsung membasahi bibir
Putranya dengan air tersebut. Seketika wajah Putranya terlihat sangat segar.
Begitu pula dengan Siti Hajar. Wajahnya terlihat kembali bersinar, ia merasa
senang, karena Allah telah memberikan Mukzijat dari Allah yang memberikan
kehidupan, setelah di baying-bayangi oleh kematian.
Air
tersebut berubah menjadi telaga, dan sampai saat ini di sebut dengan Telaga
Zam-Zam. Usaha Siti Hajar mencari air tidak sia-sia, Beliau kesana kemari agar
mendapatkan air hingga akhirnya sampai di Bukit Shafa dan Marwah. Hingga aat
ini berjalan kaki dari Shafa ke Marwah di jadikan sebagai salah satu Rukun Haji
yang di sebut Sha’i.
Ketika
Ismail beranjak remaja, Nabi Ibrahim sangat gembira, namun
kegembiraan itu tiba-tiba buyar karena perintah Allah SWT lewat mimpinya. Nabi
ibrahim mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih puteranya, yaitu Nabi Ismail.
Awalnya Nabi Ibrahim sangat sedih menerima mimpi itu.
Namun,
mimpi seorang Nabi merupakan salah satu dari cara Allah menurunkan
wahyunya kepada Nabi, jadi perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus
dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim as. Mengetahui perintah itu, ibrahim duduk dan
termenung memikirkan ujian dari Allah yang begitu berat tersebut. Sebagai
seorang ayah yang baru saja dikarunia seorang Putra setelah puluhan tahun
didambakan, tiba tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut oleh tangan
ayahnya sendiri.
Dengan
berat hati Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya kepada Putranya tersebut.
Mendengar perkataan Nabi Ibrahim as tentang mimpinya, Nabi Ismail as tanpa
keraguan sedikitpun mengatakan kejakanlah apa yang diperintahkan oleh Allah
SWT.
Saat
penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Nabi
Ismail as, dibaringkan ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam
yang sudah tersedia dan sambil memegang parang ditangannya, kedua mata Nabi
ibrahi as masih tergenang air berpindah memadang wajah putranya dan ke
arah yang mengkilap di tangannya, seakan-akan pada saat itu beliau menjadi
tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban
seorang rasul di satu pihak yang lain.
Pada
akhirnya dengan memejamkan matanya, Nabi Ibrahim meletakkan parang pada
leher Nabi Ismail as dan penyembelihan dilakukan. Tiba-tiba, Malaikat Jibril
mengangkat Nabi Ismail as dan di gantikan dengan seekor Kambing, yang sangat
besar dan gemuk.
Faiza hadir Bu
BalasHapus#himah.
BalasHapusHal pertama yang kita harus cinta ngi adalah Allah bukan manusia
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusFatimah hadir,taat pada perintah Allah SWT
BalasHapusNaysa hadir bu
BalasHapus